Jumat, 09 Juni 2017 - 09:18:37 WIB
Asuransi Pertanian Amanat UU, Dukungan Pemda Sangan Menentukan
Diposting oleh : Syamsul Riyadi,STP
Kategori: Sekretariat - Dibaca: 185 kali

Pertanian menjadi usaha yang penuh resiko. Tak jarang banyak petani mengalami kerugian akibat gagal panen. Baik karena serangan hama penyakit maupun bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Resiko besar tersebut kerap membuat petani ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah gagal panen, petani kerap terlebih hutang, karena modal usaha tani dari hasil pinjaman. Karena itu untuk menjaga resiko tersebut pemerintah sejak lama menggagas Asuransi Pertanian sebagai bentuk perlindungan petani.

Apalagi produk pertanian mudah rusak (perisibel), sehingga petani menjadi pelaku produksi yang sangat rentan. Nah, dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) diharapkan mampu memitigasi resiko agar daya saing usaha petani padi menjadi semakin baik. Perlindungan petani merupakan amanat yang tertuang dalam Undang Undang (UU) No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, khususnya pelaksanaan strategi perlindungan petani melalui asuransi pertanian. Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Asuransi Pertanian di Bogor, Rabu (30/5) mengatakan, AUTP dan AUTS merupakan salah satu bentuk perlindungan yang pemerintah berikan kepada petani dan peternak.

Sayangnya, masih belum banyak dipahami dengan baik oleh aparat pemerintahan di daerah dan petani. Padahal, Asuransi Pertanian mampu melindungi petani/peternak dari resiko kerugian nilai ekonomi usaha tani padi akibat gagal panen/kehilangan ternak. Dengan demikian, petani/peternak tetap memiliki modal kerja untuk pertanaman atau beternak berikutnya. Secara teknis, ganti rugi AUTP diberikan kepada peserta yang umur padinya sudah melewati 10 hari, intensitas kerusakan mencapai lebih dari 75% dan luas kerusakan mencapai lebih dari 75% pada setiap luas petak alami. Besarnya ganti rugi adalah Rp 6 juta/ha/musim tanam. Jika luas lahan yang diasuransikan kurang atau lebih dari satu hektar, maka besarnya ganti rugi dihitung secara proporsional. Perlindungan ini bisa dirasakan petani dengan kewajiban terlebih dulu membayar premi sebesar Rp 36 ribu per musim tanam. Sedangkan AUTS, ganti rugi diberikan kepada peserta apabila terjadi kematian atas ternak.Kematiannya terjadi semasa waktu pertanggungan (1 tahun).Besarnya ganti rugi ternak mencapai Rp 10 juta/ekor, khusus sapi bibit bisa mencapai Rp 15 juta. Peternak hanya perlu menyetorkan premi sebesar Rp 40 ribu/ekor/tahun untuk bisa merasakan manfaat perlindungan.

Dukungan Pemda

Berdasarkan data dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, hingga April 2017 ini realisasi AUTP sudah mencapai 266.779,49 ha dari target 1 juta hektar lahan padi sawah yang terlindungi asuransi atau sekitar 26,68%. Sedangkan untuk AUTS, baru ada terealisasi sekitar 24.253 ekor dari 120 ribu ekor sapi atau sekitar 20,21%. “Ini perlu kita dorong lagi untuk bisa ditingkatkan.

Khususnya untuk AUTS, mungkin dalam setiap sosialisasi program SIWAB perlu ditambahkan dengan asuransi ternak. Sehingga saat indukannya sudah bunting kemudian ternyata mati saat melahirkan bisa diklaim untuk ganti rugi bagi peternak,” ungkap Dadih.

sumber berita : http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/asuransi-pertanian-amanat-uu-dukungan-pemda-sangan-menentukan/



0 Komentar :